Kritik Sastra Feminis
1. Pengertian
Sastra adalah salah satu dari berbagai bentuk representasi budaya yang menggambarkan relasi dan rutinitas jender. Selain itu, teks sastra juga dapat memperkuat dan membuat stereotipe jender baru yang lebih merepresentasikan kebebasan jender. Oleh karena itu, kritik sastra feminis membantu membangun studi jender yang direpresentasikan dalam sastra (Goodman, 2001: 2).
Kajian sastra feminisme secara sederhana dapat di artikan sebagai kajian yang memandang sastra dengan kesadaran khusus,kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya,sastra,dan kehidupan kita.Jenis kelamin inilah yang membuat perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada faktor luar yang mempengaruhi situasi karang mengarang (Sugihastuti,2005:5 ).
2. Aliran
Feminisme berasal dari kata Feminism (Inggris) yang berarti gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Pengertian feminisme juga dikemukakan oleh Kutha Ratna, feminisme secara etimologis berasal dari kata famme (woman), yang berarti perempuan (tunggal) yang bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial.
3. Tujuan
Inti tujuan feminisme adalah meningkatkan kedudukan dan drajat perempuan agar sama atau sejajar dengan kedudukan serta drajat laki-laki .Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan inin mencangkup berbagai cara. Salah satu caranya adalah memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki (Djajanegara, 2000:4).
4. Ragam
Lebih lanjut Djajanegara (2000:27-39 ) menguraikan ragam kritik sastra feminis sebagai berikut.
1.KSF Idiologis
2.KSF Ginokritik
3.KSF Sosialis
4.KSF Psikoanalitik
5.KSF Lesbian
6.KSF Etnik
Oleh karena itu, pandangan ini pantas dilihat kembali oleh penelitian sastra berperspektif feminis.
5. Identifikasi
Pada umumnya, karya sasta yang menampilkan tokoh wanita bisa dikaji dari segi feministik. Baik cerita rekaan, ikon, maupun sajak mungkin untuk diteliti dengan penekatan feministik, asal saja ada tokoh wanitanya. Kita akan mudah menggunakan pendekatan ini jika tokoh wanita ini dikaitkan dengan tokoh laki-laki. Tindaklah menjadi soal apakah mereka berperan sebagai tokoh utama atau tokoh pratagonis, tokoh bawahan.
Setelah mengidentifikasi satu atau beberapa tokoh di dalam beberapa karya, kita mencari kedudukan tokoh-tokoh itu di dalam masyarakat.misalnya,jika kedudukanya sebagai seorang istri atau ibu, di dalam masyarakat tradisional dia akan menempati kedudukan yang infirior atau lebih rendah dari kedudukan laki-laki,karena tradisi mendekati dia berperan sebagai orang yang mengurus rumah tangga dan tidak layak mencari nafkah sendiri.Biasanya tokoh demikian akan memiliki ciri-ciri Viktoria yang ditentang kaum feminis.
Lebih lanjut, kita dapat mengetahui perilaku serta watak tokoh perempuan dari gambaran yang langsung diberikan penulis.Misalnya,penulis menggambarkan tokoh tersebut sebagai perempuan yang lemah lembut, penurut gemar dan pandai mengatur rumah tangga, serta mau berusaha keras untuk membahagiaan suami. Penulis juga dapat juga melukiskan tokoh wanita sebagai pribadi yang haus akan pendidikan atau pengetahuan, yang rajin berkarya di luar lingkungan rumah, terutama untuk mendambah penghasilan keluarga, sehingga bisa diakui masyarakan sebagai sosok yang memiliki jati diri sendiri tantap dikaitkan dengan kedudukan suami.
Langkah kedua adalah meneliti tokoh lain, terutama tokoh laki-laki yang memiliki keterkaitan dengan tokoh perempuan yang sedang kita amati. Cara-cara atau tahap-tahap yang kita tempuh tidak banyak berbedadari apa yang telah kita laksanakan terhadap tokoh perempuan. Meskipun tujuan utama kita adalah meneliti tokoh perempuan, kita tidak akan memperoleh gambaran lengkap tanpa memperhatikan tokoh-tokoh lainnya, khususnya tokoh laki-laki sebahagai mana layaknya dilakukan dalam kajian gender.
Langkah terakhir adalah mengamati sikap penulis karya yang sedang kita kaji. Mungkin kita akan berprasangka bahwa jika penulisnya laki-laki,. Dengan sendirinya tokoh wanitanya ditampilkannya sebagai sosok tradisional yang dengan atau tanpa sadar menjalani kehidupan penuh ketergantungan. Sebaliknya, apabila penulisnya perempuan, dia akan menghadirkan tokoh perempuan yang tegar, mandiri, serta penuh percaya diri. Praduga-praduga demikian sebaiknya kita kesampingkan saja. Baik laki-laki maupun wanita, seorang penulis mungkin saja menampilkan perempuan mandiri atau perempuan tradisional. Yang perlu kita perhatikan adalah nada atau suasana yang mereka hadirkan. Mereka mungkin saja menulis dengan kata-kata menyindir atau ironis, dengan nada komik atau memper olok-olok, dengan mengkritik atau mendukung, dan dengan nada optimistik atau pesimistik. Nada dan suasana cerita pada umumnya mamapu mengungkapkan maksud penulis dalam menghadirkan tokoh yang akan ditentang atau didukung para feminis.
Untuk mengetahui pandanggan serta sikap penulis, sebaiknya kita juga memperhatikan latar belakangnya. Misalnya tempat dan waktu penulisan sebuah karya banyak mempengaruhi pendirian dan sikap seorang penulis. Untuk memperoleh keterangan mengenai penulis, kita bisa membaca biografinya atau kritik tentang karya-kryanya.
6. Pendekatan
Selain ragam femenisme diatas, terdapat dua jenis pendekatan yang sangat menentukan sikap peneliti dalam menganalisis permasalahan perempuan dalam karya sastra. Wolf (1994: xxvii-xxviii) membagi pendekatan feminisme dalam dua hal, yaitu feminisme korban (victim feminism) dan feminisme kekuasaan (power feminisme). Feminisme korban melihat perempuan dalam peran seksual yang murni dan mistis, dipandu oleh naluri untuk mengasuh dan memelihara, serta menekankan kejahatan yang terjadi atas perempuan sebagai jalan untuk menuntut hak-hak perempuan. Sementara itu, feminisme kekuasaan menganggap perempuan sebagai manusia biasa yang seksual, individual, tidak lebih baik dan tidak lebih buruk dibandingkan dengan laki-laki yang menjadi mitranya dan mengklaim hak-haknya atas dasar logika yang sederhana, yaitu perempuan memang memiliki hak.
7. Kritik
Dari berbagai pemikiran feminisme diatas terlihat bahwa munculnya ide-ide feminis berangkat dari kenyataan bahwa konstruksi sosial jender yang ada mendorong citra perempuan masih belum dapat memenuhi cita-cita persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Kesadaran akan ketimpangan struktur, sistem, dan tradisi masyarakat di berbagai bidang inilah yang kemudian melahirkan kritik feminis.
8. Gerakan Feminisme
Didalam kajian Feminisme sastra haruslah terdapat sebuah pertentangan dalam diri perempuan dan adanya usaha yang dilakukan seseorang perempuan tersebut sebagai aksi protes atau usaha pembaharu atas kejadian yang selama itu terjadi. Jika tidak mendatangkan atau mendapatkan penentangan dari pihak perempuan maka itu tidak bisa disebut dengan feminisme. Gerakan feminisme atau bentuk-bentuk protes yang terdapat dalam Novel Perempuan di Titik Nol ini yaitu bahwa Firdaus berlaku pasif dan menolak grasi untuk menunjukkan kebencian dan aksi protesnya terhadap laki-laki. Adapun hal tersebut, tergambar dalam kutipan-kutipan berikut:
Ia mengijinkan kaum lelaki menikmati tubuhnya, namun, ia menjamin bahwa para lelaki takkan pernah mampu membuatnya bereaksi, gemetar, atau merasakan nikmat atau sakit. “Saya belajar untuk melawan dengan cara bersikap pasif, untuk menjaga keutuhan diri tanpa memberikan apa-apa. Inilah yang dilakukan Firdaus sebagai bukti perlawanannya terhadap kaum lelaki. Kepasifannya merupakan suatu bentuk perlawanan, suatu kemampuan yang aneh untuk tidak merasakan kenikmatan ataupun sakit, tidak membiarkan sehelai rambutpun di atas kepala, atau pada tubuhnya bergerak. Ia berhasil menunjukkan eksistensinya melalui kepasifannya
“Setiap kali saya memungut selembar surat kabar dengan gambar salah seorang di antara mereka di dalamnya, saya akan meludahinya. Inilah yang dilakukan Firdaus sebagai lambang perlawanannya terhadap kaum lelaki.
Selanjutnya, terdapat pernyataan Firdaus bahwa “Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk salah satu kejahatan yang kau lakukan. Pernyataan tersebut merupakan bentuk perlawanan Firdaus. Ia menolak grasi sebagai salah satu bentuk usahanya untuk menjaga harga dirinya sebagai perempuan.
PENUTUP
Sebagai gerakan modern, feminisme yang mulai berkembang pesat sekitar tahun 1960 di Amerika berdampak luas. Gerakan ini membuat masyarakat sadar akan kedudukan perempuan yang inferior. Dampak dari gerakan ini juga dapat dirasakan dalam bidang sastra. Perempuan mulai menyadari bahwa dalam karya sastra pun terdapat ketimpangan mengenai pandangan tentang manusia dalam tokoh-tokohnya. Hal inilah yang pada akhirnya memunculkan apa yang dinamakan kritik sastra feminis.
DAFTAR PUSTAKA
– Hand Out Perkuliahan
– Sofia, Adib. 2009. Aplikasi Kritik Sastra feminis. Yogyakarta: Citra Pustaka.
– Kutha Ratna, Nyoman. Teori, Metode, dan Teknik penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
– El-Saadawi, Nawal. Perempuan di Titik Nol. 1992. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Komentar
Posting Komentar
Jangan lupa diikuti :)