PSIKOANALISIS (Sigmund Freud)


            Sigmund Freud atau yang akrab dipanggil Freud adalah salah satu tokoh psikoanalisis yang juga merupakan pendiri aliran ini. Salah satu penemuan besar psikoanalisis adalah adanya kehidupan taksadar pada manusia. Selama ini diyakini ilmuwan bahwa manusia adalah makhluk rasional yang sepenuhnya sadar akan segala perilakunya. Segi-segi terpenting perilaku manusia justru ditentukan oleh alam tak sadarnya. (Moesono, 2003:2)
            Alam bawah sadar adalah rekaman semua pengalaman penting kita. Alam bawah sadar adalah tempat penyimpanan perasaan dan pelbagai keinginan yang terdorong keluar dari kesadaran. Ini tempat dimana dorongan naluriah bekerja dalam pikiran. Pengalaman sehari-hari tetap berada dalam sadar pikiran kita dan seringkali muncul kembali dalam mimpi. Mudah sekali memahami bagaimana gagasan ini bermanfaat dalam menelaah sastra. Fiksi, seperti mimpi, merupakan khayalan, dan bisa diperkirakan fiksi mengandung banyak sekali materi bawah sadar. (Ryan, 2007:129).
            Perbandingan paling nyata antara mimpi dengan karya sastra adalah adalah lamunan (day dream), kedua kejadian ini hampir sama meskipun dalam konteks yang berbeda. Dari lamunan seorang penulis mampu membuat materi dasar karya-karya puitis. Penulis bisa mengubah, menyamarkan atau memodifikasi lamunannya menjadi cerita novel, dan drama. Pahlawan dalam cerita itu adalah dirinya sendiri yang digambarkan dengan terang-terangan atau diasosiasikan menjadi orang lain.

Sigmund Freud (1856–1939)
Pada tanggal 6 Mei 1856 Sigmund Freud lahir di Freilberg, kota kecil di daerah Moravia, yang pada waktu itu merupakan suatu daerah di kekaisaran Austria-Hongaria, dan sekarang termasuk Republik Ceko. Ia berasal dari keluarga Yahudi. Ketika ia berumur empat tahun, keluarganya pindah ke Wina. Di ibu kota Austria itu itu menetap sampai 82 tahun umurnya. Ia belajar ilmu kedokteran di Universitas Wina. Ia bekerja di laboratorium Profesor Bruecke, ahli ternama dalam bidang fisiologi. Sebagai dokter ia bertugas di rumah sakit umum di Wina, dengan terutama memusatkan perhatiannya pada anatomi otak (1882-1885). Lama kelamaan perhatiannya bergeser dari neurologi ke psikopatologi. Terpengaruh oleh Breuer, sekitar 1888 ia mulai memanfaatkan hipnosis dan sugesti dalam praktek medisnya. (Bertens, 2006:9)
Penemuan Freud yang paling fundamental ialah peranan dinamis ketidaksadaran dalam hidup psikis manusia. Sampai waktu itu, hidup psikis disamakan begitu saja dengan kesadaran. Untuk pertama kali dalam sejarah psikologi, Freud menjelaskan bahwa hidup psikis manusia sebagian besar berlangsung pada taraf tak sadar.
Menurut Bertens (2006:14) hidup psikis yang menurut hakikatnya tidak lain daripada konflik antara daya-daya psikis. Hal itu mengakibatkan bahwa tendensi-tendensi naluriah akan mengalami nasib yang berbeda-beda. Terutama tiga kemungkinan pantas diperhatikan secara khusus.
(a)    Suatu tendensi  naluriah dapat dipuaskan, misalnya karena tendensi itu disalurkan keluar melalui-perbuatan-perbuatan.
(b)   Dengan sengaja suatu tendensi dapat ditahan dan – kalau itu memang berhasil – sedikit demi sedikit dilepaskan dari energinya. Hal itu terjadi dalam represi yang normal.
(c)    Akhirnya suatu tendensi naluriah dapat direpresi, dalam arti dilupakan, tetapi energi tetap utuh. Neurosis akan timbul pada kemungkinan ketiga ini. Tetapi itu tidak berarti bahwa suatu tendensi yang direpresi mutlak perlu harus mengakibatkan neurosis. Bisa saja represi tidak menyebabkan gangguan apa pun. Kalau memang terjadi neurosis, banyak energi dari ego diperlukan, supaya efek yang direpresi itu tetap tinggal tak sadar. Perasaan-perasaan yang direpresi membentuk ketidaksadaran. Mereka mencari pemuasan substitutif dalam mimpi-mimpi atau dengan menciptakan gejala-gejala neurotis.


A.           Perspektif Topografis yang dikemukakan Freud
Dalam periode pertama Freud membedakan tiga struktur atau “instansi” dalam hidup psikis: “yang tak sadar”, “yang prasadar”, dan “yang sadar”. “yang tak sadar” atau ketidaksadaran meliputi apa yang terkena represi. “yang prasadar”  meliputi apa yang dilupakan, tetapi dapat diingat kembali tanpa perantara psikoanalisis. Freud menekankan bahwa “yang tak sadar” dan “yang prasadar” termasuk dua sistem yang berbeda. Sebetulnya “yang prasadar” membentuk satu sistem dengan “yang sadar” atau kesadaran. Antara sistem tak sadar dan sistem sadar memainkan peranan apa yang disebut “sensor”. Setiap unsur tak sadar yang mau masuk kesadaran akan melewati sensor itu. (Bertens, 2006:14)
Distingsi antara tak sadar, prasadar, dan sadar dikenal sebagai perspektif topografis atau struktural. Freud menggambarkan kepribadian layaknya gunung es. Bagian yang muncul di permukaan adalah bagian yang paling kecil (puncak gunung es) yang disebut sebagai kesadaran (conciousness). Agak di bawah permukaan air adalah bagian prakesadaran (subconciousness), yang sewaktu-waktu dapat muncul ke kesadaran. Lalu bagian terbesar dari gunung es yang berada di bawah permukaan air sama sekali yang disebut alam ketidaksadaran (unconciousness), berisi dorongan-dorongan yang ingin muncul ke permukaan atau ke kesadaran. Bagian taksadar hanya muncul dalam perbuatan-perbuatan tak sengaja, fantasi, khayalan, mimpi, mitos, dongeng, dan sebagainya. (Maesono, 2003:3)            


Gambar 1 Analogi Gunung Es
            Dorongan-dorongan yang ini mendesak terus ke atas, sedangkan tempat di atas sangat terbatas. ada suatu sistem yang dsebut ‘ego’ yang menjadi pusat kesadaran yang mengatur dorongan mana yang dapat muncul dan dorongan mana yang harus ditahan dan tetap berada di alam ketidaksadaran. Ego haruslah kuat dalam melaksanakan tugasnya, sebab jika ego lemah maka individu akan mengalami kelainan-kelainan psikologis seperti psikotik dan neurotik.
            Menurut Freud, peran yang sangat penting dipegang oleh “yang taksadar” karena semua proses psikis bersumber pada “yang taksadar”.  Proses-proses ketidaksadaran adalah akar dari seluruh gejala neurotik, sebab segala pengalaman, ingatan, dan dorongan-dorongan yang mengenakkan tertekan ke alam ketidaksadaran.
            Alam prasadar berada di bagian atas ketidaksadaran. Bagian ini berisi pengalaman-pengalaman, ingatan-ingatan, dan dorongan-dorongan yang mungkin (potensial) terungkap ke alam kesadaran secara langsung. Misalnya penyebab-penyebab ketakutan yang kuat seseorang terhadap tempat gelap telah dilupakan sehingga ia sangat kuat berada ditempat gelap manapun juga. Jika orang yang bersangkutan berusaha mengingat-ingat masa kanak-kanaknya dan berhasil mengenang bahwa ia pernah ditinggal ibunya sendirian di tempat gelap dan terkejut maka penyebab takut tadi sudah muncul ke alam kesadarannya. Dalam contoh ini penyebab takut kuat itu semula berada dalam alam prasadar. (Hidayah, 1995:32)
            Dapat ditarik kesimpulan bahwa kesadaran itu berisi segala hal yang kita ingat, tahu dan sadari. Sigmund Freud yakin bahwa upaya-upaya pemunculan ke alam kesadaran apa-apa yang berada di alam ketidaksadaran dan prasadar adalah esensial bagi penyembuhan psikologis. Seseorang mampu membuat pilihan, mengarahkan diri, jika ia kenal, tahu, ingat apa ciri-ciri dirinya.
           
            B.            Struktur Kepribadian
      Tahun 1923 Freud secara tegas mengemukakan dalam bukunya The Ego and the Id pandangannya mengenai struktur kepribadian manusia, yaitu sebagai terdiri dari tiga ‘bagian’ yang tumbuh secara kronologis: Id, Ego, dan Superego. (Maesono, 2003:3).
(1)   Id
            Ratna (2004:63) Id adalah dorongan primitif yang harus dipuaskan. segi kepribadian tertua, sistem kepribadian pertama, ada sejak lahir (bahkan mungkin sebelum lahir), diturunkan secara genetis, langsung berkaitan dengan dorongan-dorongan biologis manusia dan merupakan sumber/cadangan energi manusia, sehingga dikatakan juga oleh Freud sebagai jembatan antara segi biologis dan psikis manusia. Id bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang amat primitif sehingga bersifat kaotik (kacau tanpa aturan), tidak mengenal moral tidak memiliki rasa benar-salah. Satu-satunya yang diketahui Id adalah perasaan senang-tidak senang, sehingga dikatakan bahwa Id bekerja berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle). Ia selalu mengejar kesenangan dan menghindar dari ketegangan. (Maesono, 2003:3-4) 
(2)   Ego
            Ego adalah segi kepribadian yang harus tunduk pada Id dan harus mencari dalam realitas apa yang dibutuhkan Id sebagai pemuas kebutuhan dan pereda. Ratna (2004:63) Ego bertugas mengontrol Id. Dengan demikian Ego adalah segi kepribadian yang dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan serta mau menanggung ketegangan dalam batas tertentu. Berlawanan dengan Id yang bekerja berdasarkan prinsip kesenanangan, Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle), artinya ia dapat menunda pemuasan diri atau mencari bentuk pemuasan lain yang lebih sesuai dengan batasan lingkungan (fisik maupun sosial) dan hati nurani. Ego yang lemah tidak dapat menjaga keseimbangan antara id dan superego, jika dikuasai oleh id maka orang akan menjadi psikopat (tidak memperhatikan norma-norma dalam tindakannya), jika terlalu dikuasai superego maka orang akan menjadi psikoneurose (tidak dapat menyalurkan sebagian besar dorongan-dorongan primitifnya).
            Fungsi ego adalah menjaga keseimbangan antara kedua sistem lainnya, sehingga tidak semua dorongan id muncul dan sebaliknya tidak semua dorongan superego muncul.
(3)   Superego
            Superego merupakan perwakilan dari berbagai nilai dan norma yang ada dalam masyarakat dimana individu itu hidup atau dengan kata lain Superego merupakan kata hati (Ratna, 2004:63). Anak mengembangkan Superegonya melalui berbagai perintah dan larangan dari orangtuanya. Freud membagi Superego dalam dua subsistem yaitu hati nurani dan Ego ideal. Hati nurani diperoleh melalui penghukuman berbagai perilaku anak yang dinilai ‘jelek’ oleh orang tua dan menjadi dasar dari rasa bersalah. Ego ideal adalah hasil pujian dan penghadiahan atas berbagai perilaku yang dinilai ‘baik’ oleh orang tua. Anak mengejar keunggulan dan kebaikan dan bila berhasil akan memiliki nilai diri dan kebanggaan diri. Superego memungkinkan manusia memiliki pengendalian diri selalu akan menuntut kesempurnaan manusia dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
C.      Perkembangan Psikoseksual
1)        Fase Oral
Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral. Konflik utama pada tahap ini adalah proses penyapihan, anak harus menjadi kurang bergantung pada para pengasuh. Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan memiliki masalah dengan ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat mengakibatkan masalah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku.
2)        Fase Anal
Pada tahap anal, Freud percaya bahwa fokus utama dari libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Konflik utama pada tahap ini adalah pelatihan toilet – anak harus belajar untuk mengendalikan kebutuhan tubuhnya. Mengembangkan kontrol ini menyebabkan rasa prestasi dan kemandirian.
Menurut Freud keberhasilan pada tahap ini tergantung pada cara di mana orang tua pendekatan pelatihan toilet. Orang tua yang memanfaatkan pujian dan penghargaan untuk menggunakan toilet pada saat yang tepat mendorong hasil positif dan membantu anak-anak merasa mampu dan produktif. Freud percaya bahwa pengalaman positif selama tahap ini menjabat sebagai dasar orang untuk menjadi orang dewasa yang kompeten, produktif dan kreatif.
3)        Fase Phallic
Pada tahap phallic , fokus utama dari libido adalah pada alat kelamin. Anak-anak juga menemukan perbedaan antara pria dan wanita. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Kompleks Oedipus menggambarkan perasaan ini ingin memiliki ibu dan keinginan untuk menggantikan ayah. Namun, anak juga memiliki rasa kekhawatiran bahwa ia akan dihukum oleh ayah untuk perasaan ini.
4)        Fase Laten
Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri. Freud menggambarkan fase laten sebagai salah satu yang relatif stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode terpisah.
5)        Fase Genital
Pada tahap akhir perkembangan psikoseksual, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah selesai dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.

D.      Kompleks Oedipus
Kompleks Oedipus (Oedipus complex) merujuk pada suatu tahapan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak saat anak dari kedua jenis kelamin menganggap ayah mereka sebagai musuh dan saingan dalam meraih cinta secara eksklusif dari ibunya. Nama ini diambil dari mitos Yunani tentang Oedipus, yang tanpa diketahui membunuh ayahnya, Laius, dan menikahi ibunya, Jocasta.
Ratna (2004:63) Freud bertumpu pada Oedipus Sang Raja karya Shopokles, dan ketaksadaran karya seni khususnya pada karya sastra. Pada masa selanjutnya, Freud sedikit mengubah pandangannya dengan mengatakan bahwa untuk anak laki-laki sudah ada sejarah identifikasi dengan ayahnya, yang tidak menyertakan persaingan dengannya. Lebih jauh, untuk anak perempuan Freud beranggapan bahwa hubungan dengan ibunya sebagai sangat penting untuk memahami perkembangan psikoseksualnya, yang mempengaruhinya dalam memasuki kompleks oedipus.
Menurut A. Kasandra, psikolog, kecenderungan pria yang jatuh cinta kepada wanita yang lebih tua darinya, terobsesi karakter ibunya. Kemungkinan sejak kecil si pria tersebut memiliki kedekatan secara emosional terhadap figur seorang ibu. Sehingga, secara tak langsung, alam bawah sadarnya merekam memori kasih sayang yang selama ini diberikan sang bunda.
Superego merupakan dasar hati nurani moral. Aktivitas Superego menyatakan diri dalam konflik dengan ego yang dirasakan dalam emosi-emosi seperti rasa bersalah, rasa menyesal, dan lain sebagainya. Sikap-sikap seperti observasi diri, kritik diri, dan inhibisi berasal dari Superego. Menurut Freud kompleks Oidipus  memainkan  peranan besar dalam pembentukan Superego. (Bertens, 2006:34)

E.       Interpretasi Mimpi
Mimpi adalah fenomena mental. Dalam mimpi, fenomena mental adalah ucapan dan perilaku orang yang bermimpi, tapi mimpi orang tersebut tidak bermakna bagi kita dan kita juga tidak bisa memahaminya. Freud percaya bahwa mimpi dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Menurutnya, mimpi merupakan representasi dari konflik dan ketegangan dalam kehidupan kita sehari-hari. Demikian hebatnya derita karena konflik dan ketegangan yang dialami sehingga sulit diredakan melalui alam sadar, maka kondisi tersebut akan muncul dalam alam mimpi tak sadar.
Studi tentang mimpi memungkinkan meletakkan fundamen untuk suatu psikologi baru tentang manusia normal, dimana mimpi-mimpi mendapat tempat yang wajar, padahal sampai waktu itu, mimpi masih merupakan teka-teki yang membingungkan. (Bertens, 2006:18)
Keberhasilan di bidang penelitian tentang mimpi menjadi alasan bagi Freud untuk mengarahkan perhatiannya kepada fenomena-fenomena psikis seperti lelucon, perbuatan keliru, “keseleo” lidah, lupa, dan lain sebagainya, pokoknya semua fenomena dari hidup sehari-hari yang dapat diperlakukan dengan cara yang sama seperti mimpi yang terang. Dalam buku Lelucon dan Hubungannya dengan ketidaksadaran ia memperlihatkan bagaimana lelucon memungkinkan pelepasan naluri-naluri  tak sadar setelah lebih dulu diubah dan distorsi. (Bertens, 2006:14)
Makna sebenarnya dari mimpi, yang sesudah analisis mengganti isi yang terang, selalu dapat dimengerti dengan jelas. Titik tolaknya terpendam dalam pengalaman pada hari sebelumnya dan ternyata tidak lain daripada keinginan yang tidak terpenuhi. Oleh karena  itu, mimpi yang Anda ingat ketika bangun dari tidur tak lain tak bukan adalah pemenuhan berkedok  dari keinginan-keinginan yang direpresi.

F.       Teori Naluri
Naluri atau instink merupakan representasi psikologis bawaan dari eksitasi akibat muncul suatu kebutuhan tubuh. Bentuk naluri menurut Freud adalah pengurangan tegangan (tension reduction).
Menurut Freud, naluri yang terdapat dalam diri manusia bisa dibedakan dalam: eros atau naluri kehidupan (life instinct) dan naluri kematian (death instinct). Naluri kehidupan adalah naluri yang ditujukan pada pemeliharaan ego. Sedangkan naluri kematian adalah naluri yang mendasari tindakan agresif.
Freud meyakini bahwa perilaku manusia dilandasi oleh dua energi mendasar yaitu, pertama, naluri kehidupan (life instinct). Dan kedua, naluri kematian yang mendasari tindakan agresif. Naluri kematian dapat menjurus pada tindakan bunuh diri atau pengrusakan diri (self-destructive behavior).

G.      Kecemasan dan Mekanisme Pertahanan
Dalam teori kedua tentang hidup psikis, ego merupakan asal usul mekanisme pertahanan. Kecemasan dipandang sebagai tanda bahaya – setengah biologis setengah psikologis – yang mengarahkan mekanisme ini. Mula-mula Freud memandang kecemasan neurotis sebagai libido yang ditransformasikan. Dengan kata lain,  kecemasan terjadi karena libido “terbendung” akibat represi. Dalam buku Inhibisi, Gejala, dan Kecemasan pandangan ini diubah. Ego bukan saja mengalami kecemasan, tetapi juga secara aktif dapat membangkitkan kecemasan agar mekanisme pertahanan dijalankan. Jadi, Ego bukan saja merupakan tempat berlangsungnya kecemasan melainkan juga pelaku kecemasan.  
Menurut Hidayah (1995) bentuk-bentuk penyimpangan tingkah laku dikemukakan oleh Freud sebagai berikut:
1)      Kecemasan dan Neurosis
            Freud membedakan antara kecemasan yang wajar yang sumbernya dapat dikenali dan kecemasan yang tidak dapat dikenali. Para ahli mengemukakan bahwa kecemasan yang wajar itu sebagai ketakutan. Kecemasan adalah perasaan yang disebabkan oleh sumber yang tidak jelas atau tidak diketahui.
            Kecemasan neurosis ditimbulkan oleh suatu pengamatan tentang bahaya dan insting-insting. Kecemasan ini merupakan suatu rasa ketakutan tentang apa yang mungkin terjadi. Bentuk kecemasan neurosis misalnya gugup. Bentuk lainnya yang lebih hebat adalah pobia.
2)      Neurosis traumatik
            Kecemasan memainkan peranan dalam bentuk kekacauan neurosis. Misalnya terjadinya kebakaran, banyak orang mengalami ketakutan, kecemasan dan panik. Kejadian tersebut bisa membuat seseorang menjadi trauma, dia akan tampak gemetar, takut, meski ia secara fisik sudah aman. Tidurnya gelisah dan terganggu oleh mimpi buruk yang menyebabkan mengalami kembali kondisi-kondisi traumatik.
3)      Mekanisme pertahanan primer: penolakan dan represi
            Freud menemukan bahwa pikiran sadar seringkali melakukan transformasi penting pada materi bawah sadar yang berarti bahwa bentuk akhir yang diekspresikan akan sedikit menggambarkan dorongan bawah sadar atau konflik yang memicunya. Ia menyebut hal ini dengan “pertahanan” ego yang bergerak menentang libidinal yang tak bisa diterima atau materi bawah sadar. Sastra memiliki banyak contoh kemunafikan khususnya pada karakter religius tokoh-tokohnya.
            Penolakan hanya suatu cara untuk menghindari rasa sakit, rasa tidak enak, perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang mengakibatkan kecemasan dengan berbuat seolah-olah tidak pernah terjadi. Represi merupakan bentuk khusus dari penolakan yang secara efektif merintangi dorongan-dorongan yang menimbulkan kecemasan untuk mencapai kesadaran. Kecemasan merupakan penyebab represi. Represi biasanya tidak disadari dimana individu berusaha melupakan keinginan-keinginan yang tidak disetujui oleh nuraninya.
4)      Mekanisme pertahanan sekunder
      (a)    Reaksi formasi
Reaksi formasi merupakan upaya individu untuk menggantikan perasaan-perasaan yang menimbulkan ketakutan atau kecemasan dengan mengarahkan ke arah sebaliknya.
      (b)   Proyeksi
Proyeksi merupakan bentuk khusus dari penolakan.
      (c)    Displacement (pemindahan)
Displacement (pemindahan) bertujuan menghilangkan perasaan-perasaan yang mengakibatkan kecemasan dan respon yang diarahkan pada objek lain dengan cara yang wajar.
      (d)   Sublimasi
Sublimasi terdiri atas penyaluran impuls-implus terhadap aktivitas-aktivitas yang disetujui oleh masyarakat.
      (e)    Rasionalisasi
Mekanisme pertahanan terjadi pada individu akibat gagal melakukan sesuatu dengan mengakibatkan berbagai alasan.
      (f)    Intelektualisasi
Intelektualisasi merupakan alat untuk mencegah impuls yang menimbulkan kecemasan untuk mencapai kesadaran.
      (g)   Isolasi
Tujuan isolasi adalah menghilangkan perasaan yang biasanya mengikuti situasi yang menyakitkan.
      (h)   Identifikasi
Identifikasi adalah peniruan perilaku individu untuk menerima ciri pribadi orang lain menjadi ciri pribadinya sendiri.
      (i)     Regresi
Regresi adalah ciri individu yang menunjukkan perilaku mundur.

H.                Sastra dan Psikoanalisis
            Menurut Wellek dan Warren (1989:90), psikologi sastra memasuki bidang kritik sasra lewat beberapa jalan, antara lain:
(a)      Pembahasan tentang proses penciptaan sastra.
(b)     Pembahasan psikologi terhadap pengarangnya (baik sebagai suatu tipe maupun sebagai seorang peneliti).
(c)      Pembicaraan tentang ajaran dan kaidah psikologi yang dapat ditimba dari karya sastra.
(d)     Pengaruh karya sastra terhadap pembacanya.
            Dalam psikologi sastra, ada beberapa tokoh psikologi terkemuka, seperti
Sigmund freud, Carl Gustav Jung dan Mortimer Adler yang telah memberikan
inspirasi tentang misteri tingkah laku manusia melalui teori-teori psikologi.
Namun Freud-lah yang paling banyak memberi sumbangan pemikiran dalam psikologi sastra, dia secara langsung berbicara tentang proses penciptaan seni sebagai akibat tekanan dan timbunan masalah di alam bawah sadar yang kemudian dituangkan kedalam bentuk penciptaan karya seni. Teori pendekatan psikologi sastra yang dikembangkan oleh Freud ini dikenal dengan nama psikoanalisis.
            Dalam konsepnya, Freud bertolak dari psikologi umum, yaitu dia menyatakan bahwa dalam diri manusia ada tiga bagian, yaitu id, ego dan super-ego. Jika ketiganya berkerja secara wajar dan seimbang, maka manusia akan
memperlihatkan watak yang wajar pula. Namun jika ketiga unsur tersebut tidak
bekerja secara seimbang, dan salah satunya lebih mendominasi, maka akan
terjadilah peperangan dalam batin atau jiwa manusia, dengan gejala-gejala resah,
gelisah, tertekan dan neurosis yang menghendaki adanya penyaluran.
            Karya sastra yang tidak dapat lepas dari psikologi pengarangnya dalam proses penciptaan sastra. Freud menganggap pengarang adalah seorang neurotik yang keras kepala, dan melalui kayanya dia menjada agar tidak menjadi gila dan sekaligus tidak dapat disembuhkan. Sedangkan penyair adalah pelamun yang diterima masyarakat. (Wellek dan Warren, 1989:92)
            Jika demikian maka perlu dipahami juga bagaimana keterkaitan antara karya sastra dengan psikoanalisis itu sendiri. Setelah membahas proses mimpi dan juga gangguan psikis pada manusia, kita pun akan membicarakan proses kreatif yang disampaikan oleh Sigmund Freud.
”Seniman (kata Freud) asal mulany adalah seorang yang lari dari kenyaataan ketika untuk pertama kali ia tidak dapat memenuhi tuntutan untuk menyangkal pemuasan insting. Kemudian dalam kehidupan fantasinya ia memuaskan keinginan erotik dan ambisinya. Tetapi ia dapat menemukan jalan untuk keluar dari dunia fantasi ini dan kembali ke kenyataan; dan dengan bakatnya yang istimewa ia dapat membentuk fantasinya menjadi suatu jenis realitas baru, dan orang menerimanya sebagai bentuk perenungan hidup yang bernilai. Jadi dengan jalan khusus ia menjadi pahlawan, raja, pencipta, tokoh favorit yang memang diimpikannya, tanpa harus melalui jalan berputar untuk membuat perubahan nyata pada dunia luar”. Wellek dan Warren (1989:92).

Setelah Introduction to Psychoanalysis (1958) dan juga The Interpretation of Dream (1911), Freud banyak menulis tentang sejarah pemikiran Yunani yang berkaitan dengan mitos, dorongan seksual pada manusia dan juga kekecewaan-kekecewaan manusia yang ditemui selama dalam hidupnya. Beberapa karya Freud yang bisa disebutkan disini adalah; Totem and Taboo (1918), Civilization and Its Discontents (1930), Leonardo da Vinci and A Memoir of His Childhood (1989), dll.
            Penerapan teori psikoanalisi Freud-seperti yang telah diungkapkan Wellek dan Warren di atas, dapat digunakan untuk mengkaji pelbagai aspek dalam karya sastra baik itu perupa, Pembahasan tentang proses penciptaan sastra, Pembahasan psikologi terhadap pengarangnya (baik sebagai suatu tipe maupun sebagai seorang peneliti), Pembicaraan tentang ajaran dan kaidah psikologi yang dapat ditimba dari karya sastra, dan Pengaruh karya sastra terhadap pembacanya.


DAFTAR RUJUKAN

Habib, Rafey. 2005. A history of literary criticism: from Plato to the present. UK: Blackwell Publishing Ltd
Hidayah, Nur. 1995. Ancangan Konseling Kelompok Psikoanalitik. Malang: IKIP Malang.
K. Bertens. 2006. Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: Gramedia.
Maesono. Anggadewi. 2003. Psikoanalisis dan Sastra. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ryan, Michael. 2007. Teori Sastra Sebuah Pengantar Praktis. Yogyakarta: Jalasutra
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (Ed. Melani Budianta). Jakarta: PT. Gramedia.

Komentar

  1. Tulisannya bagus dan sangat membantu saya dalam mencari dan mengerjakan tugas. Terima kasih atas materi tentang Mimpi. Mohon izin share ilmu ya Pak. Terima kasih.

    BalasHapus
  2. Terimakasih pak, tulisannya sangat membantu

    BalasHapus
  3. Terimakasih pak, tulisannya sangat bermanfaat bagi saya

    BalasHapus

Posting Komentar

Jangan lupa diikuti :)