SASTRA, LADANG PENANAMAN KARAKTER DAN NILAI

            Sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari kata Sanskerta; akar kata sas dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mendidik, mengajar atau menginstruksikan, sedangkan tra berarti alat atau sarana. Maka dari itu sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi. Kemudian dipergunakan dengan berbagai bentuk salah satunya sebagai bahan untuk menciptakan imajinasi sehingga melahirkan suatu karya, baik itu karya sastra, bahasa maupun karya-karya lainnya. Karya sastra merupakan hasil dari perpaduan antara imajinasi, konterplasi dan interplasi berdasarkan wawasan pengarang sebab sastra bukan hanya sekedar imitation of life akan tetapi bagaimana kemudian sastra ini hasil dari penafsiran-penafsiran tentang alam dan kehidupan interpretation of life sebab karya sastra mengungkapkan makna kehidupan yang tak terungkap baik itu gambaran tentang penderitaan, perjuangan, maupun cerita hidup pengarang
               Sastra dapat dilihat dari berbagai aspek. Dari aspek isi, jelas bahwa karya sastra sebagai karya imajinatif tidak lepas dari realitas. Karya sastra merupakan cermin zaman. Berbagai hal yang terjadi pada suatu waktu, baik positif maupun negatif  direspon oleh pengarang. Dalam proses penciptaannya, pengarang akan melihat fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat itu  secara kritis,  kemudian mereka mengungkapkannya dalam bentuk yang imajinatif.  
             Hakikat  sastra adalah dulce et utile, artinya menyenangkan dan bermanfaat. Dari aspek gubahan, sastra disusun dalam bentuk, yang apik dan menarik sehingga membuat orang senang membaca, mendengar, melihat, dan menikmatinya. Sementara itu, dari aspek isi ternyata karya sastra sangat bermanfaat. Di dalamnya terdapat nilai-nilai  pendidikan moral yang berguna untuk menanamkan pendidikan karakter. Dulce dikaitkan dengan unsur menyenangkan dalam sebuah karya sastra dapat ditemukan dalam gaya bahasa, pilihan kata, deskriptif, alur yang menyenangkan, karakter tokoh, perilaku tokoh, dan akhir cerita atau ending. Sedangkan utile atau manfaat yang dapat dipetik dalam karya sastra yaitu mendidik, mengajarkan kebaikan, mengajarkan kebijakan, mengajarkan kesehajaan dan kepantasan, mengajarkan kejujuran, mengajarkan cinta kasih, menghaluskan rasa kemanusiaa, meningkatkan optrimisme, serta mengajarkan semangat berkorban.
Pembelajaran sastra menanamkan tentang pengetahuan karya sastra, ditumbuhkan kecintaan terhadap karya sastra, dan dilatih keterampilan menghasilkan karya sastra. Kegiatan apresiatif sastra dilakukan melalui kegiatan (1) reseptif seperti membaca dan mendengarkan karya sastra,   menonton pementasan karya sastra, (2)  produktif, seperti mengarang, bercerita, dan mementaskan karya sastra, (3) dokumentatif, misalnya mengumpulkan puisi, cerpen, membuat kliping tentang infomasi kegiatan sastra.
            Pada kegiatan apresiasi sastra  pikiran, perasaan, dan kemampuan motorik dilatih dan dikembangkan. Melalui kegiatan semacam  itu pikiran menjadi kritis, perasaan menjadi peka dan halus, memampuan motorik terlatih. Semua itu merupakan modal dasar yang sangat berarti dalam pengembangan pendidikan karakter.
Ketika seseorang membaca, mendengarkan, atau menonton pikiran dan perasaan diasah. Mereka harus memahami karya  karya sastra secara kritis dan komprehensif, menangkap tema dan amanat yang terdapat di dalamnya dan memanfaatkannya. Bersamaan dengan kerja pikiran itu, kepekaan perasaan diasah sehingga condong pada tokoh protogonis dengan karakternya  yang baik dan menolak tokoh antagonis yang  berkarakter jahat.
             Ketika seseorang menciptakan karya sastra, pikiran kritisnya dikembangkan, imajinasinya dituntun ke arah yang positif sebab ia sadar karya sastra harus menyenangkan dan bermanfaat. Penulis akan menuangkan imajinasinya sesuai dengan kaidah genre sastra yang dipilihnya. Ia akan memilih diksi, menyusun  dalam bentuk kalimat, menggunakan gaya bahasa yang tepat, dan sebagainya. Sementara itu, pada benak pengarang terbersit keinginan untuk menyampaikan amanat,  menanamkan nilai-nilai moral, nilai religius, nilai sosial, nilai psikologis, baik melalui karakter tokoh, perilaku tokoh, ataupun  dialog.  Dalam penulisan karya sastra orisinalitas sangat diutamakan. Pengarang berusaha akan berusaha menghindari penjiplakan apalagi plariarisme. Dengan demikian, nilai-nilai kejujuran sangat dihargai dalam karang- mengarang.
             Demikian sastra dalam memberikan pemahaman kepada pembaca melalui karya-karya yang begitu menarik dan mampu menggambarkan fenomena melalui ekspresi jiwa pengarang. Berbagai bentuk karya yang dieksplor melalui dunia sastra baik itu dalam bentuk sosiologi, psikologi, feminis, serta masih banyak permasalahan yang diungkapkan melalui dunia sastra. Itulah mengapa sastra menjadi alat yang sangat berpengaruh dalam memberikan suatu perubahan pada individu maupun kelompok. Salah satu contoh ketika orang membaca karya sastra tentu dia akan masuk dalam suatu cerita atau memposisikan dirinya sebagai aktor atau pelaku yang berperan dalam karya itu. Dan itu merupakan bentuk dari pada dia berusaha untuk menanamkan atau memaknai peristiwa, kejadian maupun mengambil manfaat dari karya itu yang kemudian mampu untuk diterapkan dalam kehidupan sehara-hari.
            Dengan melihat kondisi saat ini bahwa moral generasi bangsa sudah merosot jauh dari harapan untuk memikul sebuah amanat bangsa untuk memberi perubahan yang signifikan terhadap perkembangan bangsa Indonesia supaya mengantarkan bangsa indonesia ke kancah internasional, maka dari itu sastra hadir di tengah-tengah masyarakat khususnya generasi bangsa untuk mewadahi psoses kreatifitas yang dilakukan baik melalui tulisan, lukisan dan berbagai bentuk karya lain.
Abdul Azis
Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Azisabdul078@gmail.com
Cp : 0823423208


Komentar

Posting Komentar

Jangan lupa diikuti :)

Postingan populer dari blog ini

PSIKOANALISIS (Sigmund Freud)